Hubble memiliki cermin dengan tinggi 2,4 meter dan empat instrumen utamanya mengamati di wilayah ultraungu, kasatmata, dan inframerah dekat dari spektrum elektromagnetik. Orbit Hubble di luar distorsi atmosfer bumi memungkinkan untuk menangkap gambar resolusi sangat tinggi dengan cahaya latar jauh lebih rendah daripada teleskop berbasis darat. Teleskop ini telah merekam beberapa gambar cahaya tampak paling rinci yang memberikan pandangan dalam ke ruang angkasa. Banyak pengamatan Hubble telah membawa terobosan dalam astrofisika seperti menentukan tingkat ekspansi alam semesta.
Teleskop Hubble dibangun oleh badan antariksa Amerika Serikat NASA dengan kontribusi dari Badan Antariksa Eropa. Space Telescope Science Institute (STScI) memilih target Hubble dan memproses data yang dihasilkan, sedangkan Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard mengendalikan wahana antariksa.[7] Teleskop antariksa diusulkan pada awal tahun 1923. Hubble didanai pada tahun 1970 dengan proposal peluncuran pada tahun 1983, tetapi proyek tersebut dilanda penundaan teknis, masalah anggaran, dan musibah Challenger pada tahun 1986. Teleskop ini akhirnya diluncurkan oleh Pesawat Ulang Alik Discovery pada tahun 1990, tetapi cermin utamanya telah di-ground secara tidak benar dan menyebabkan aberasi sferis yang membahayakan kemampuan teleskop. Optik teleskop diperbaiki dengan sebuah misi perbaikan pada tahun 1993.
Hubble adalah satu-satunya teleskop yang dirancang untuk dirawat di ruang angkasa oleh para astronaut. Lima misi pesawat ulang alik telah memperbaiki, meningkatkan, dan mengganti sistem pada teleskop, termasuk semua lima instrumen utama. Misi kelima dibatalkan dengan alasan keamanan setelah musibah Columbia (2003), tetapi administrator NASA Michael D. Griffin menyetujui misi servis kelima yang selesai pada tahun 2009. Teleskop Hubble beroperasi pada tahun 2020 dan dapat bertahan hingga 2030-2040.[3] Penggantinya adalah teleskop luar angkasa James Webb (JWST) yang dijadwalkan akan diluncurkan pada Maret 2021.[8]
Dari https://id.wikipedia.org/wiki/Teleskop_Luar_Angkasa_James_Webb, disebutkan bahwa Teleskop luar angkasa James Webb (bahasa Inggris: James Webb Space Telescope, disingkat JWST), sebelumnya dikenal dengan Next Generation Space Telescope (NGST), merupakan observatorium angkasa yang dioptimalkan untuk pengamatan dalam spektrum inframerah dan merupakan pengganti dari Teleskop Hubble dan Teleskop Spitzer. JWST diluncurkan pada 25 Desember 2021 pukul 09:20 waktu setempat dengan menggunakan roket Ariane 5.[1] Fitur teknis yang utama adalah cermin dingin yang sangat besar, dengan diameter 6.5 meter, dan empat instrumen khusus untuk pengamatan yang jauh dari Bumi, yang mengorbit pada titik L2 Bumi-Matahari. Kombinasi fitur-fitur ini membuat JWST bisa menghasilkan resolusi yang belum pernah ada sebelumnya dan sensitivitas dari sinar tampak pada panjang gelombang-jauh sampai inframerah-tengah, membuatnya bisa digunakan untuk 2 tujuan utama — mempelajari kelahiran dan evolusi galaksi, dan pembentukan bintang dan planet.
Mulai direncanakan sejak 1996, [2] proyek ini merupakan kolaborasi internasional dari sekitar 17 negara[3] dipimpin oleh NASA, dan dengan kontribusi signifikan dari European Space Agency dan Canadian Space Agency. Teleskop ini diberi nama dari James E. Webb, administrator kedua NASA, yang berperan penting dalam Program Apollo.[4] Rencananya, teleskop ini akan diluncurkan dengan roket Ariane 5 pada 2021.[5]
JWST akan memakan waktu sekitar satu bulan untuk mencapai posisi 1,5 juta kilometer (930.000 mil) dari Bumi. Wilayah ini dikenal sebagai Lagrange point 2, atau L2. Pada posisi ini, pengamatan teleskop tidak akan terhambat Bumi dan Bulan jika terjadi malfungsi (seperti yang terjadi dengan Hubble).
Resolusi sudut dari JWST sangat tajam dan tepat. Teleskop ini dapat melihat pada resolusi 0,1 detik busur, yang berarti bahwa hal itu bisa melihat satu sen dari jarak 24 mil (40 kilometer) jauhnya atau menonton pertandingan sepak bola dari jarak 340 mil (550 kilometer) jauhnya.
Cermin raksasa JWST terbuat dari 18 segmen heksagonal individu terdiri dari berilium ringan. Cermin ini hampir tiga kali ukuran cermin Hubble, sehingga daerah pengumpul cahayanya tujuh kali lebih besar dari Hubble. Namun kedua cermin ini memiliki berat hampir sama karena bahan yang lebih ringan digunakan pada cermin JWST ini.
Sisi bagian bawah sunshield JWST akan selalu menghadap Matahari, sehingga suhunya mencapai 85 ° C (185 ° F). Sementara sisi lain, yang merupakan tempat cermin dan instrumen ilmiah akan memiliki suhu sangat dingin, sekitar -233 ° C (-388 ° F). Foto di atas menunjukkan JWST sedang di Uji Coba di dalam Ruangan yang sangat dingin.
Ok demikian para pemiarsa semua, mudah-mudahan artikel ini dapat menambah wawasan kita terutama di dalam bidang teknologi. Sampai jumpa di artikel saya selanjutnya, jangan lupa selalu jaga protokol kesehatan.
Wabillahi Taufik wal Hidayah
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar